

10 Hewan yang Hidup di Gunung Everest dan Wilayah Khumbu
Gunung Everest, juga dikenal sebagai Sagarmatha dalam bahasa Nepal, dikenal sebagai gunung tertinggi di Bumi. Setiap kali orang memikirkan Everest, mereka cenderung membayangkan salju, es, dan bebatuan yang curam. Gunung ini mungkin tampak seperti tempat di mana tidak ada kehidupan. Udaranya sangat tipis, dinginnya sangat menusuk, dan hampir tidak ada tumbuhan di banyak tempat. Oleh karena itu, mudah untuk berasumsi bahwa satwa liar tidak akan mampu bertahan hidup di tempat ini.
Namun kenyataannya sungguh mengejutkan. Terdapat banyak hewan yang beradaptasi dengan baik dan kuat di sekitar wilayah Khumbu yang mengelilingi Everest dan sebagian besar Taman Nasional Sagarmatha. Lanskapnya berubah dengan cepat saat Anda menjelajahi daerah tersebut. Hutan di lembah-lembah rendah terdiri dari pinus, cemara, dan rhododendron. Saat Anda mendaki lebih tinggi, vegetasi menghilang, dan Anda akan menjumpai padang rumput alpine terbuka, lereng berbatu, dan gletser. Daerah-daerah ini menawarkan lingkungan yang beragam bagi berbagai spesies.
Seiring waktu, hewan-hewan di sekitar wilayah Everest telah mengembangkan mekanisme bertahan hidup mereka sendiri. Beberapa hewan memiliki bulu atau sayap tebal untuk menahan angin beku. Hewan lainnya lebih efisien dalam penggunaan oksigen. Sebagian besar dari mereka bermigrasi ke bawah pada musim dingin, dan beberapa tidur di dalam lubang atau menghabiskan bulan-bulan dingin di sana.
Pada artikel ini, Anda akan mengenal sekitar 10 hewan yang menghuni Gunung Everest dan wilayah Khumbu. Anda juga akan mengetahui tempat-tempat di mana Anda dapat menemukan mereka saat melakukan pendakian, dan bagaimana mengamati hewan di habitat yang rapuh ini dengan cara yang ramah lingkungan.
Wilayah Khumbu: Lokasi dan Adaptasi Ekstrem Satwa Liar
Khumbu adalah wilayah di timur laut Nepal, di lereng Gunung Everest, dan perbatasan antara Nepal dan Tibet (Tiongkok). Wilayah ini meliputi lokasi-lokasi terkenal seperti lembah Dudh Kosi, Danau Gokyo, dan Gletser Khumbu.
Khumbu unik karena merupakan wilayah yang sangat luas dalam hal ketinggian, dengan ketinggian sekitar 2,800 meter di desa-desa seperti Lukla dan Monjo, dan mencapai 8,848.86 meter di puncak Everest.
Oleh karena itu, pemandangan terus berubah seiring dengan perubahan medan akibat peningkatan ketinggian. Hutan pinus dan rhododendron di daerah yang lebih rendah digantikan oleh hutan cemara dan birch di daerah yang lebih tinggi, dan oleh padang rumput alpine terbuka di daerah yang lebih tinggi, serta oleh batuan gundul, gletser, dan salju abadi di atas ketinggian sekitar 5,500 meter.

Pada awalnya, medan pegunungan ini tampak terlalu beku dan kejam bagi ternak. Suhu berubah-ubah, dari panas ke dingin, matahari semakin terik, dan musim dingin mencapai -30 °C. Meskipun demikian, satwa liar di daerah ini masih bertahan hidup karena sebagian besar spesies di sini sangat beradaptasi.
Ada hewan yang memiliki paru-paru lebih besar atau lebih banyak sel darah merah untuk memanfaatkan oksigen yang terbatas. Sebagian besar dari mereka memiliki bulu atau sayap tebal untuk menjaga kehangatan tubuh, dan tubuh mereka biasanya kompak untuk meminimalkan kehilangan panas.
Ini juga merupakan masalah perilaku untuk bertahan hidup. Beberapa hewan bermigrasi ke lembah yang lebih rendah selama musim dingin, dan hewan-hewan yang berhibernasi selama berbulan-bulan di musim dingin, seperti marmut. Pika dan hewan kecil lainnya menimbun dan menyimpan tumbuhan kering di musim panas untuk dikonsumsi di musim dingin.
Ciri-ciri alam dan keterampilan bertahan hidup tersebut menjadikan wilayah Khumbu sebagai salah satu ekosistem dataran tinggi paling menarik di bumi, di mana kehidupan masih ada bahkan di dekat Base Camp Everest.
10 Hewan yang Hidup di Gunung Everest dan Wilayah Khumbu
Meskipun wilayah Everest dan Khumbu sangat tandus, dingin, dan berudara tipis, dengan medan yang terjal, beragam satwa liar dapat ditemukan di sana. Predator gunung yang besar dan hewan-hewan kecil bersembunyi di antara bebatuan dan hutan.
Berikut adalah sepuluh hewan luar biasa yang dapat ditemukan di dalam dan sekitar Gunung Everest, masing-masing memiliki ciri khas tersendiri yang membantunya bertahan hidup di salah satu lingkungan paling tidak ramah di planet ini.
- Macan Tutul Salju – Hantu Himalaya
Salah satu hewan paling populer yang dapat ditemukan di daerah Everest dan Khumbu adalah macan tutul salju. Hewan ini mendiami pegunungan tinggi di antara tebing dan lereng bersalju, yang biasanya berada di atas 3,000 meter. Hal ini membuat kucing besar ini sangat sulit dilihat karena warna bulunya yang abu-abu dan berbintik-bintik sangat menyatu dengan bebatuan dan salju. Macan tutul salju adalah predator yang kuat dan mereka terutama memakan binatang buas seperti kambing gunung Himalaya. Mereka memiliki bulu yang lebat, cakar besar untuk berjalan di salju, dan ekor panjang untuk menjaga keseimbangan dan kehangatan. Macan tutul salju, sebuah simbol kuat satwa liar yang bertahan hidup di lingkungan ekstrem Himalaya, jarang terlihat. - Tahr Himalaya – Penguasa Tebing Curam
Tahr Himalaya adalah kambing liar yang sering terlihat di tebing gunung di daerah Khumbu. Hewan ini mendiami hutan dan daerah pegunungan tinggi, biasanya antara 2500 dan 4500 meter. Tahr adalah pendaki yang kuat dan berkaki pendek dengan kuku seperti karet. Mereka terlindungi dari angin dingin, terutama selama musim dingin, karena bulunya yang tebal. Mereka terutama herbivora dan umumnya memakan rumput dan tumbuhan, serta menjadi sumber makanan penting bagi macan tutul salju. Melihat tahr merumput di tebing sekitar Namche Bazaar dan Tengboche adalah pemandangan umum di kalangan pendaki dan menunjukkan sejauh mana hewan-hewan ini dapat beradaptasi dengan kehidupan di pegunungan. - Yak – Hewan Ikonik di Dataran Tinggi
Hewan yang paling populer dan penting di daerah Everest adalah yak. Mereka adalah makhluk besar dan berbulu lebat yang dapat bertahan hidup dengan nyaman di ketinggian lebih dari 3,000 meter, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh banyak hewan lain. Yak memiliki tubuh yang sangat tebal, paru-paru yang kuat, dan tubuh yang kokoh, membantu mereka mengatasi cuaca dingin dan kekurangan oksigen. Di Khumbu, sebagian besar yak telah dijinakkan, dan mereka membantu masyarakat Sherpa dengan membawa beban di jalur pendakian. Mereka juga merupakan sumber susu, daging, wol, dan bahan bakar dari kotoran kering. Kehidupan dan perjalanan ke pegunungan Himalaya yang tinggi akan sangat sulit tanpa kehadiran yak. - Rusa Musk Himalaya – Penghuni Hutan yang Pemalu
Rusa kesturi Himalaya mendiami hutan sunyi di Khumbu bagian bawah, biasanya pada ketinggian 2500 hingga 4300 meter. Hewan ini kecil, pemalu, dan umumnya aktif saat fajar dan senja. Tidak seperti rusa lainnya, rusa ini tidak memiliki tanduk, dan rusa jantan memiliki gigi taring yang panjang. Kelenjar kesturi umum terdapat pada rusa jantan, dan inilah yang membuat rusa kesturi menjadi korban perburuan ilegal di masa lalu. Sekarang mereka dilindungi, namun tetap terancam. Mereka hidup di hutan lebat di mana mereka menyembunyikan diri di semak-semak dan bergerak tanpa suara, sehingga sangat sulit untuk diperhatikan oleh para pendaki. - Serigala Himalaya – Predator Puncak di Wilayah Ini
Serigala Himalaya adalah predator kuat yang hidup di daerah terpencil dan dataran tinggi Khumbu. Ia mendiami daerah pegunungan terbuka di atas desa-desa dan memangsa hewan seperti marmut, pika, dan kadang-kadang ternak. Serigala ini cocok untuk udara dingin dan tipis, dengan bulu tebal dan paru-paru yang kuat. Mereka hidup dalam kelompok kecil, dan habitat mereka juga sangat langka, tetapi keberadaan mereka penting untuk menyeimbangkan ekosistem. Serigala Himalaya menunjukkan bahwa predator besar mampu bertahan hidup di iklim keras Everest. - Panda Merah – Penduduk Langka di Khumbu Bawah
Panda merah adalah hewan lucu dan terancam punah yang dapat ditemukan di hutan dataran rendah wilayah Khumbu. Hewan ini ditemukan di ketinggian antara 2,800 dan 3,800 meter, terutama di hutan bambu. Panda merah adalah hewan arboreal, dan mereka bergerak di pagi hari dan di malam hari. Mereka makan buah-buahan dan serangga, tetapi terutama bambu. Mereka tetap hangat karena bulu tebal dan kaki berbulu mereka. Panda merah rentan dan sangat pemalu, dan karena itu, mereka jarang terlihat. - Marmot Himalaya – Sang Penjaga yang Bersiul
Marmot mendiami padang rumput alpine terbuka di atas garis pepohonan, biasanya antara 3,500 dan 5,200 meter. Mereka adalah hewan pengerat yang sangat besar dan biasanya duduk tegak di atas bebatuan untuk mengawasi bahaya. Marmot membuat lubang dan menghuni koloni bawah tanah. Mereka mengeluarkan siulan keras ketika merasa terancam untuk memperingatkan orang lain. Marmot menghabiskan banyak bulan di bawah tanah untuk mencoba bertahan hidup di musim dingin yang panjang. Selama musim panas, mereka mengonsumsi bunga dan rumput serta mengembangkan lemak. Marmot mudah terlihat di daerah seperti Dingboche dan Pheriche. - Pika – Sang Penyintas di Ketinggian
Pika Himalaya adalah makhluk kecil yang menghuni bebatuan dan dinding batu di wilayah Everest, yang biasanya berada di atas ketinggian 3,000 meter. Hewan ini menyerupai kelinci kecil dan tidak memiliki ekor yang terlihat. Pika tidak berhibernasi; mereka menimbun rumput dan tumbuhan selama musim panas dan menyimpannya sebagai makanan musim dingin. Tindakan ini disebut sebagai "haying" (menimbun jerami). Bulu mereka yang lebat membuat mereka tetap hangat bahkan ketika suhu berada pada titik beku. Pika biasanya terdengar terlebih dahulu sebelum terlihat, dan mereka mengeluarkan suara mencicit yang tajam. Mereka sangat kecil tetapi mampu hidup di pegunungan ekstrem. - Burung Gagak Paruh Kuning – Burung Penerbang Tinggi Everest
Burung gagak paruh kuning adalah burung hitam, dan paruhnya berwarna kuning cerah, sering terlihat terbang di sekitar Base Camp Everest. Burung ini termasuk burung yang mampu terbang tinggi di dunia dan dapat bertahan hidup di ketinggian lebih dari 6,000 meter. Mereka adalah penerbang yang kuat, dan mereka memanfaatkan angin gunung untuk terbang dengan mudah. Mereka memakan biji-bijian, serangga, dan bahkan sisa makanan yang ditinggalkan oleh para pendaki. Gagak adalah burung yang ramah, dan mereka sering terdengar dalam kelompok, di mana mereka mengeluarkan suara riang. Burung-burung ini dapat bertahan hidup dalam kondisi ketinggian karena mereka memiliki kemampuan untuk terbang dan bertahan hidup di udara tipis. - Monal Himalaya – Burung Nasional Nepal
Salah satu burung paling berwarna di wilayah Khumbu adalah monal Himalaya, yang juga disebut sebagai burung nasional Nepal, Danphe. Burung ini mendiami hutan dan pegunungan Alpen pada ketinggian 2,100-4,500 meter. Bulu monal jantan berwarna biru, hijau, dan tembaga yang berkilau, sedangkan monal betina berwarna cokelat dan memiliki kamuflase yang baik. Mereka hidup dengan memakan akar, serangga, dan biji-bijian yang mereka gali di dalam tanah. Di Taman Nasional Sagarmatha, monal dilindungi, dan mereka umum ditemukan di hutan dekat Tengboche. Mereka memberikan warna dan kehidupan pada medan terjal Everest dengan keindahan mereka.
Tempat-tempat di mana satwa liar dapat terlihat: dari Base Camp Everest hingga Ketinggian Ekstrem
Satwa liar memang semakin langka, tetapi tidak sepenuhnya menghilang, bahkan di antara Base Camp Everest dan puncak gunung. Ada banyak hal yang, di permukaan, mungkin dianggap tidak bernyawa, seperti Base Camp Everest, yang pada ketinggian sekitar 5,300-5,400 meter terlihat hanya terdiri dari bebatuan, es, dan gletser. Namun, pada bulan-bulan musim panas, kita masih dapat menemukan beberapa hewan tangguh di sini.
Burung adalah yang paling umum. Burung gagak paruh kuning sering terlihat terbang di sekitar perkemahan atau melompat-lompat mencari sisa makanan. Gagak Himalaya, burung pemakan bangkai alpine, dan merpati salju juga ditemukan di area Gorak Shep dan Base Camp. Di atasnya, burung pemakan bangkai berjanggut dan burung pemakan bangkai griffon Himalaya dapat terbang tanpa suara, mencari makanan di gletser.
Di kerajaan mamalia, pika adalah spesies yang paling sering terlihat di Base Camp dan dapat ditemukan di antara tumpukan batu, mengeluarkan suara melengking di pagi hari ketika tidak ada suara lain. Marmot Himalaya berada sedikit lebih rendah dan ditemukan di sekitar tempat-tempat seperti Lobuche dan Gorak Shep, terutama selama musim panas.
Terdapat kasus langka di mana hewan pengerat kecil dan bahkan laba-laba pelompat Himalaya yang sangat kecil dilaporkan oleh para pendaki, dan hewan ini dikenal sebagai hewan penghuni tetap tertinggi di wilayah Everest.
Aktivitas satwa liar di sekitar Base Camp bervariasi tergantung musim. Selama musim dingin, sebagian besar hewan akan turun ke tempat yang lebih rendah atau bersembunyi. Selama musim semi dan musim gugur, burung-burung kembali, dan pergerakan hewan lebih sering terjadi di awal pagi dan di akhir sore hari.
Di daerah-daerah di luar Base Camp, hanya ada sedikit hewan. Di ketinggian lebih dari 8,000 meter, di tempat yang disebut Zona Kematian, tidak ada hewan yang dapat bertahan hidup secara permanen karena tidak ada oksigen atau makanan. Meskipun demikian, terdapat penerbangan burung yang langka dan hewan-hewan kecil yang menunjukkan bahwa kehidupan memiliki batasnya bahkan di ketinggian paling ekstrem di planet kita.
Ancaman terhadap Satwa Liar dan Upaya Konservasi di Wilayah Khumbu
Ribuan tahun lamanya, cuaca dingin ekstrem, udara tipis, dan pegunungan terjal telah memungkinkan satwa liar di wilayah Khumbu untuk bertahan hidup. Namun demikian, di dunia modern, hewan-hewan tersebut memiliki musuh baru, yang terutama adalah aktivitas manusia dan pemanasan global.
Pemanasan global adalah salah satu tantangan terbesar. Pegunungan Himalaya juga mengalami pemanasan dengan laju yang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain di dunia. Perubahan curah salju, pencairan gletser, dan cuaca yang tidak menentu berdampak pada hewan dan tumbuhan.
Akibat perubahan suhu, hutan dan padang rumput secara bertahap bergeser ke atas, sehingga menyisakan lebih sedikit ruang bagi hewan-hewan dataran tinggi seperti macan tutul salju, kambing gunung Himalaya, dan pika. Spesies tertentu mungkin terpaksa pindah ke puncak hingga tidak ada lagi tempat yang dapat mereka tempati.

Tekanan juga disebabkan oleh pariwisata dan pendakian. Wilayah Everest menerima ribuan pendaki setiap tahun. Meskipun pariwisata meningkatkan mata pencaharian lokal, hal itu dapat mengganggu satwa liar melalui kebisingan, pembangunan jalur pendakian, sampah, dan gangguan manusia. Sisa makanan dan sampah dapat menyebabkan kerusakan pada hewan atau mengubah perilaku alami mereka. Selain itu, ada kasus di mana predator seperti macan tutul salju dan serigala Himalaya menyerang ternak, menyebabkan beberapa konflik dengan para penggembala lokal.
Dalam upaya melestarikan satwa liar, terdapat berbagai langkah konservasi yang gencar. Pusat dari upaya tersebut adalah Taman Nasional Sagarmatha, yang dibentuk untuk melestarikan alam dan budaya lokal. Perburuan dan penangkapan hewan liar dilarang, hutan dilindungi, dan pembangunan dikendalikan. Komunitas Sherpa setempat sangat terlibat dalam konservasi, dan hal ini dipimpin oleh penghormatan budaya terhadap alam.
Pengelolaan limbah organisasi juga diperhatikan, pariwisata bertanggung jawab didorong, pohon ditanam, dan penggunaan energi bersih didukung. Wilayah Khumbu berupaya memastikan kelangsungan hidup satwa liar yang unik di Gunung Everest melalui kolaborasi antara masyarakat, otoritas taman, dan pengunjung.
Kapan dan Bagaimana Cara Mengamati Satwa Liar Secara Bertanggung Jawab di Wilayah Khumbu
Berwisata melihat satwa liar di daerah Khumbu adalah proses yang menyenangkan, namun membutuhkan waktu yang tepat dan perilaku yang benar. Musim semi (Maret hingga Mei) dan musim gugur (Akhir September hingga November) adalah waktu paling ideal dalam setahun untuk melihat hewan. Musim-musim ini cerah, dan sebagian besar hewan sedang beraktivitas selama musim-musim ini.
Pada musim semi, salju yang mencair dan pertumbuhan tanaman baru yang melimpah menarik hewan-hewan seperti kambing gunung Himalaya dan rusa kesturi ke dataran tinggi, dan burung-burung seperti monal Himalaya sibuk mencari makan dan kawin. Musim gugur juga indah, karena hewan-hewan bersiap untuk melewati musim dingin, dan hewan-hewan muda biasanya ditemukan bersama orang tuanya.
Pagi hari atau sore hari adalah waktu yang paling tepat untuk melihat satwa liar. Sebagian besar aktivitas hewan terjadi pada jam-jam yang tenang tersebut. Banyak hewan akan berpindah ke hutan atau daerah berbatu saat hari semakin ramai dengan para pendaki. Musim dingin dan musim hujan lebih sulit, dan terkadang, beberapa pengunjung dapat memberikan pemandangan langka bagi para pendaki yang sabar.
Yang terpenting bukanlah apa yang Anda amati, tetapi bagaimana Anda mengamatinya. Selalu jaga jarak aman dan jangan pernah mengejar atau memberi makan hewan. Gunakan jalur yang telah ditentukan agar tidak merusak habitat, dan jaga agar kebisingan seminimal mungkin. Ambil foto menggunakan teropong atau lensa zoom daripada bergerak. Buang semua sampah di area yang telah ditentukan, karena makanan dan plastik dapat membunuh hewan.
Dengan mengamati satwa liar secara bertanggung jawab, Anda menyelamatkan ekosistem Himalaya yang rapuh dan memiliki pengalaman yang lebih alami dan tak terlupakan di salah satu wilayah paling luar biasa di dunia.
Kesimpulan
Gunung Everest dan lembah Khumbu umumnya dianggap sebagai wilayah yang dingin, berbatu, dan penuh petualangan bagi manusia. Namun, seperti yang ditunjukkan dalam blog ini, keduanya juga menyimpan keanekaragaman satwa liar yang sangat luar biasa yang telah beradaptasi untuk hidup di salah satu habitat paling tidak ramah di Bumi.
Macan tutul salju itu pendiam dan licik, meluncur tanpa suara naik turun di punggung bukit berbatu, dan pika adalah makhluk kecil yang menimbun makanan di antara bebatuan, tetapi semuanya memiliki peran penting dalam ekosistem pegunungan yang rapuh ini. Kehidupan masih terus berlangsung dengan cara yang tak terduga bahkan di lokasi yang dekat dengan Base Camp Everest, yang membuktikan bahwa alam dapat mengejutkan kita dalam skala yang sangat besar.
Hewan-hewan ini bukan hanya objek wisata eksotis bagi para pendaki. Mereka adalah pertanda kesejahteraan Himalaya. Ketika satwa liar sehat, itu merupakan indikasi bahwa hutan, padang rumput, dan zona alpine terus berfungsi sebagaimana mestinya.
Meskipun demikian, sistem alam ini sedang tertekan oleh perubahan iklim, pariwisata, dan aktivitas manusia yang semakin meningkat. Peningkatan suhu, perubahan pola cuaca, dan gangguan habitat menunjukkan bahwa banyak spesies kini berjuang menghadapi masalah yang tidak pernah mereka rancang untuk diatasi.
Aspek positifnya adalah adanya upaya konservasi yang solid yang sedang berlangsung di wilayah KumbuPara kolaborator dalam upaya pelestarian satwa liar adalah Taman Nasional Sagarmatha, penduduk Sherpa setempat, dan kelompok konservasi yang menggunakan hukum, pendidikan, dan pariwisata bertanggung jawab untuk melestarikan satwa liar.
Peran lain dimainkan oleh para pengunjung. Melalui berjalan-jalan sambil merenung, bersikap sopan terhadap hewan, membuang sampah dengan benar, dan mematuhi peraturan taman, wisatawan berkontribusi pada pelestarian satwa liar yang ingin mereka lihat.
Terakhir, Gunung Everest Gunung Khumbu bukan hanya puncak tertinggi di dunia, tetapi juga lanskap yang hidup. Konservasi hewan-hewan di wilayah Khumbu menjamin bahwa lokasi yang luar biasa ini akan tetap liar, seimbang, dan menginspirasi generasi mendatang.
Hewan yang paling populer dan penting di daerah Everest adalah yak. Mereka adalah makhluk besar dan berbulu lebat yang dapat bertahan hidup dengan nyaman di ketinggian lebih dari 3,000 meter, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh banyak hewan lain. Yak memiliki tubuh yang sangat tebal, paru-paru yang kuat, dan tubuh yang kokoh, membantu mereka mengatasi cuaca dingin dan kekurangan oksigen. Di Khumbu, sebagian besar yak telah dijinakkan, dan mereka membantu masyarakat Sherpa dengan membawa beban di jalur pendakian. Mereka juga merupakan sumber susu, daging, wol, dan bahan bakar dari kotoran kering. Kehidupan dan perjalanan ke pegunungan Himalaya yang tinggi akan sangat sulit tanpa kehadiran yak.
Pika Himalaya adalah makhluk kecil yang menghuni bebatuan dan dinding batu di wilayah Everest, yang biasanya berada di atas ketinggian 3,000 meter. Hewan ini menyerupai kelinci kecil dan tidak memiliki ekor yang terlihat. Pika tidak berhibernasi; mereka menimbun rumput dan tumbuhan selama musim panas dan menyimpannya sebagai makanan musim dingin. Tindakan ini disebut sebagai "haying" (menimbun jerami). Bulu mereka yang lebat membuat mereka tetap hangat bahkan ketika suhu berada pada titik beku. Pika biasanya terdengar terlebih dahulu sebelum terlihat, dan mereka mengeluarkan suara mencicit yang tajam. Mereka sangat kecil tetapi mampu hidup di pegunungan ekstrem.