Siapakah Green Boots? Kisah di Balik Pendaki Everest yang Terkenal
Pengantar
Gunung Everest telah menarik perhatian dan daya tarik para petualang dan pendaki gunung dari seluruh dunia berkat ketinggian dan pemandangannya yang indah. Namun, di balik pemandangan dan puncak-puncaknya yang indah, tersimpan sejumlah kisah yang memilukan. Salah satunya tak lain adalah "Sepatu Bot Hijau".
Green Boots adalah jasad yang diawetkan dari seorang pendaki yang meninggal di jalur Northeast Ridge menuju Gunung Everest , yang sepatu pendakiannya yang berwarna hijau membuatnya mudah dikenali. Selama dekade terakhir, "Green Boots" telah menjadi landmark terkenal di Everest, berfungsi sebagai pengingat akan kekuatan gunung dan korban yang ditanggung para pendaki yang mencoba mencapai kesempurnaan.
Green Boots, yang terletak di sebuah gua batu kapur kecil di ketinggian sekitar 8,500 meter, terletak di jalur yang digunakan hampir setiap pendaki dari sisi Tibet. Banyak pendaki berhenti di Green Boots bukan hanya untuk beristirahat, tetapi juga untuk menyadari bahwa gunung dapat membunuh seseorang.
Di antara komunitas pendaki Everest yang semakin berkembang dan terkenal, gua tempat Green Boots berada sering disebut "Green Boots", yang menunjukkan betapa dalamnya kisah orang ini telah tertanam kuat dalam sejarah pendakian gunung. Kehadirannya selalu menjadi pengingat bahwa bahkan dengan perlengkapan, pelatihan, dan prakiraan cuaca yang lebih baik, Everest adalah tempat di mana alam mengalahkan segala persiapan para pendaki.
Kisah Green Boots tragis dan berbicara tentang hubungan yang problematis antara aspirasi manusia dan kekuatan alam. Green Boots diam-diam mengingatkan kita akan disfungsi sifat agnostik pegunungan, sementara banyak orang memandang Everest sebagai tantangan utama ketahanan dan kemampuan. Kehadirannya terus menjadi peringatan sekaligus inspirasi bagi para pendaki yang berusaha mencapai puncak Everest, dan Green Boots tidak hanya akan tetap menjadi penanda geografis, tetapi juga penghubung yang tak terhapuskan dengan bahaya Everest.
Green Boots istimewa karena memiliki dua peran di Everest. Pertama, tubuh telah menjadi penanda navigasi di medan yang mematikan. Para pendaki menggunakan lokasi Green Boots sebagai referensi untuk memahami kemajuan mereka di medan yang mematikan. Selain itu, Green Boots merupakan representasi yang tak terbantahkan dari risiko dan pengorbanan dalam pendakian gunung di dataran tinggi.
Legenda Sepatu Bot Hijau
Ketika para pendaki menyebut "Sepatu Bot Hijau", mereka merujuk pada seorang pendaki tak dikenal yang jasadnya menjadi salah satu landmark Gunung Everest yang paling terkenal dan mudah dikenali. Nama ini berasal dari sepatu bot Koflach hijau yang dikenakan sang pendaki, yang tampak mencolok di atas salju dan membuatnya mudah dikenali oleh orang-orang yang lewat saat mendaki maupun turun. Seiring waktu, "Sepatu Bot Hijau" menjadi penunjuk jalan yang suram sekaligus simbol bahaya Everest. Setiap pendaki di rute Northeast Ridge akan melihat sosok tragis itu saat mendaki.
Jasad Green Boots ditemukan meringkuk di ceruk batu kapur yang dalam, yang kini disebut "Gua Green Boots". Gua ini terletak sekitar 8,500 meter di rute Northeast Ridge, di tepi "zona kematian" yang terkenal kejam. Di sana, kadar oksigen rendah sehingga hanya memungkinkan untuk bertahan hidup dalam hitungan jam.
Gua ini terletak sekitar 350 meter di bawah puncak dan tepat di bawah "Langkah Pertama" yang terkenal, sehingga menjadi penanda yang tak terelakkan bagi setiap pendaki yang mendaki dari sisi utara. Gua ini penuh dengan botol-botol oksigen bekas, yang semakin mempertegas sifat negatif lingkungan tersebut.
Lebih dari sekadar perlengkapan, sepatu bot Koflach hijau menjadi sekadar objek, dan pendaki yang tak dikenal pun berubah menjadi simbol abadi. Sepatu Bot Hijau menarik perhatian karena warnanya yang berpendar, menciptakan kontras tajam dengan hamparan putih gunung. Sepatu bot ini menjadi referensi berulang untuk petunjuk navigasi dan simbol nyata akan bahaya yang menanti di ketinggian Everest selama bermusim-musim.
Simbolisme Green Boots bertahan bukan hanya sebagai kisah tragis, tetapi juga representasi kuat tentang apa yang dapat terjadi di lingkungan Everest yang tidak ramah dan betapa mudahnya keberhasilan dapat berubah menjadi kekalahan di titik tertinggi di dunia.
Identitas: Siapakah Green Boots di Everest?
Terdapat konsensus bahwa "Sepatu Bot Hijau" adalah Tsewang Paljor, seorang pendaki India dan anggota Kepolisian Perbatasan Indo-Tibet (ITBP). Ini sekarang menjadi teori yang paling diterima secara luas di kalangan pendaki dan sejarawan karena dua alasan: Paljor mengenakan sepatu bot pendakian gunung Koflach berwarna hijau yang khas ketika ia meninggal—sepatu bot yang persis sama dengan yang dikenakan "Sepatu Bot Hijau" ketika tubuhnya ditemukan di gua batu kapur di sepanjang jalur Punggung Timur Laut Everest. Hubungan antara Paljor dan Sepatu Bot Hijau terus berlanjut meskipun ada perdebatan selama bertahun-tahun, karena Paljor telah menjadi simbol bahaya gunung dan harga yang harus dibayar untuk mendaki di ketinggian.
Ekspedisi Paljor yang nahas terjadi pada Mei 1996 ketika ia bergabung dengan ITBP sebagai bagian dari kelompok kecil untuk pendakian ambisius Gunung Everest dari Jalur Timur Laut yang jarang dilalui. Tim tersebut terdiri dari enam pendaki dengan rekam jejak yang mumpuni. Masing-masing menghadapi cuaca buruk dan tantangan teknis dalam perjalanan mereka menuju puncak. Tanpa bantuan pemandu Sherpa, Paljor, Subedar Tsewang Samanla, dan Lance Naik Dorje Morup melakukan upaya pendakian terakhir mereka pada 10 Mei 1996.
Tim terus bergerak menuju puncak dengan memasang tali panjat es dan membuka jalur bagi pendaki lainnya. Tak mengherankan, tiga anggota tim berbalik arah karena cuaca yang memburuk dengan cepat pada hari pendakian, sementara Paljor dan dua anggota rombongan terus melanjutkan perjalanan. Menurut transmisi radio, setelah menerima laporan bahwa mereka telah mencapai puncak di sore hari, mereka kehilangan kontak dan tak satu pun dari ketiganya kembali ke perkemahan tinggi.
Tragedi Green Boots terjadi saat bencana Everest tahun 1996 yang terkenal, salah satu musim terburuk dalam sejarah gunung tersebut. Para pendaki di sisi Utara dan Selatan terdampar dalam kondisi yang mengancam jiwa akibat badai salju dahsyat yang mengakibatkan kematian delapan pendaki dalam dua hari.
Paljor dan rekan-rekannya hilang dalam badai, menambah jumlah korban tewas selama musim pendakian. Jenazah Paljor, yang terbaring di sebuah gua kecil di ketinggian 8,500 meter, menjadi penanda bagi para pendaki di masa depan; sebuah pengingat suram akan bahayanya dan sejarah pengorbanan di puncak Everest saat mendaki.
Konteks Tragedi Everest 1996
Musim pendakian tahun 1996 sering disebut sebagai masa paling mematikan dalam pendakian Everest, karena delapan pendaki tewas dalam tiga hari akibat badai tragis yang menghantam gunung tersebut. Serbuan ekspedisi komersial dan banyaknya tim yang berusaha mencapai puncak pada hari yang sama menyebabkan kemacetan dan mimpi buruk sinkronisasi bagi para pendaki yang sebagian besar mengandalkan perusahaan pemandu, yang terkait erat dengan bencana tersebut.
Situasi ini menggambarkan konsekuensi mematikan dari kemacetan, persaingan antar perusahaan pemandu untuk mencapai puncak, dan zona maut Everest yang tak terduga. Bencana yang terjadi di Everest pada tahun 1996 ini selalu dikaitkan dengan kisah sepatu bot hijau. Tsewang Paljor menjadi korban badai brutal tersebut dan berhasil mencapai Everest, bersama rekan-rekannya, termasuk pemimpin ekspedisi Rob Hall dan Scott Fischer.
Sebagian besar pendaki di jalur Northeast Ridge menerima bahwa Green Boots adalah Tsewang Paljor, seorang pendaki India. Beberapa poin yang diutarakan Krakauer tentang peristiwa tersebut menjadi pengingat betapa parahnya situasi dan pendakian di dataran tinggi Himalaya. Bencana musim 1996 pada akhirnya menjadi pengingat yang mengerikan akan sifat mematikan Everest sekaligus gambaran sekilas tentang kisah manusia di balik beberapa lokasi terdingin di dunia.
Mengapa Sepatu Bot Hijau Tetap Ada di Gunung Everest
Jenazah-jenazah di Everest, termasuk sepatu bot hijau, seringkali tertinggal karena pendakian di ketinggian yang keras dan berbahaya. Zona kematian Everest terletak di ketinggian 8500 meter, terkenal karena kadar oksigen yang sangat rendah, suhu di bawah nol, dan pola cuaca yang tidak dapat diprediksi.
Memindahkan tubuh beku dengan berat lebih dari 100 kg membutuhkan tali dan peralatan khusus, penyelamat yang berpengetahuan luas, dan tenaga kerja yang memadai. Risiko dan keselamatan penyelamat seringkali lebih besar daripada upaya pemulihan pendaki lainnya.
Selain itu, helikopter tidak dapat beroperasi di atas ketinggian tertentu karena udara yang tipis. Tempat ini telah menjadi penanda rute dan titik acuan bagi para pendaki di rute Northeast Ridge. Sepatu bot Koflach berwarna hijau yang khas dan tubuh di dalam gua batu kapur sangat membantu navigasi di "zona kematian".
Namun, keberadaan jenazah tersebut menimbulkan pertanyaan etis karena para pendaki harus menghadapi situasi canggung saat berpapasan dengan beberapa rekan mereka yang terbaring tak bernyawa di zona kematian. Tak diragukan lagi, tujuan utama di zona kematian adalah bertahan hidup, tetapi pengorbanan yang dilakukan di sana dimaksudkan untuk menyelamatkan orang lain. Kondisi di Everest keras dan tak terhindarkan; baik trauma maupun keadaan yang tidak menguntungkan.
Misteri dan Perdebatan
Selama bertahun-tahun, identitas Green Boots telah menjadi topik hangat di komunitas pendakian. Ada konsensus bahwa Green Boots adalah Dorje Morup, pendaki lain di tim tersebut, atau Tsewang Paljor, seorang pendaki India yang berpartisipasi dalam ekspedisi Polisi Perbatasan Indo-Tibet (ITBP) tahun 1996.
Teori ini ditonjolkan oleh PM Das dalam sebuah artikel di Himalayan Journal tahun 1997 yang mencatat laporan Morup terlihat menderita radang dingin parah di rute Northeast Ridge antara First Steps dan Second Steps. Morup terakhir kali diketahui masih hidup tetapi dalam kondisi yang buruk, dan beberapa orang yakin bahwa dialah pendaki yang meninggal dunia meringkuk di bawah batu besar dekat Camp 6 – lokasi yang berkaitan dengan Green Boots.
Kisah Green Boots masih belum diketahui karena jasadnya yang belum ditemukan dan kondisi ekstrem di Gunung Everest. Ketika jasad ditemukan di gunung, mereka tidak dapat diidentifikasi karena kondisi iklim yang ekstrem, dan tidak ada bukti forensik yang dapat digunakan untuk mengonfirmasi identitas Green Boots. Baik Paljor maupun Morup, Green Boots tetap menjadi pengingat akan risiko mematikan Everest dan batas tipis antara hidup dan mati di gunung.
Upaya Penghapusan dan Status Saat Ini
Green Boots, jasad pendaki yang diidentifikasi sebagai Tsewang Paljor, tetap menjadi jejak yang dikenal di rute Everest North East Ridge selama beberapa tahun. Warna sepatu bot hijau cerah di tubuhnya membuat sosok tersebut menonjol bagi para pendaki yang melintasi "zona kematian", yang terletak di dalam gua batu kapur kecil di ketinggian sekitar 8,500 m. Beberapa laporan dari tahun 2014 mengklaim bahwa jasad Green Boots tidak ditemukan di titik yang ditentukan di Everest.
Diyakini bahwa Asosiasi Pendaki Gunung Tibet Tiongkok, kelompok yang mengelola sisi utara Everest, kemungkinan memindahkan atau menghormati jenazah tersebut dengan menutupinya, untuk mengurangi dampak psikologis pada pendaki. Meskipun Green Boots telah disingkirkan, jenazah tersebut tidak sepenuhnya hilang dari Gunung Everest. Beberapa pendaki melaporkan melihat jenazah tersebut lagi sekitar tahun 2017, bukan di posisi bertahta sebagai penanda manusia, tetapi lebih jauh di sepanjang gua. Meskipun Green Boots menghilang dari pandangan, gua dan lereng masih dipenuhi dengan tabung oksigen yang dibuang.
Lokasi tersebut tetap menjadi titik acuan yang muram bagi para pendaki untuk menyaksikan potensi risiko mematikan dari pendakian Everest, tetapi Green Boots kini sudah tidak terlalu terlihat lagi. Keputusan untuk memindahkan Green Boots melambangkan tercapainya kompromi antara kesulitan emosional yang terkait dengan jenazah yang ditinggalkan di Everest dan integritas almarhum. Sebagian besar jenazah tertinggal di pegunungan karena cuaca buruk, medan yang menantang, dan sumber daya yang terbatas seperti dana dan infrastruktur keselamatan.
Insiden Green Boots terus memicu diskusi etis mengenai kewajiban pendaki dan pihak berwenang terkait kematian alami di zona kematian. Meskipun cangkang dan tubuh ski tetap menjadi bagian dari sejarah tragis Everest, ia tetap menjadi warisan sebagai kehadiran yang bermakna bagi banyak pendaki puncak tertinggi.
Warisan Sepatu Bot Hijau
Kisah Green Boots memperkuat pemahaman akan bahaya dan realitas pendakian Gunung Everest. Tubuh beku tersebut, yang dikenal sebagai landmark populer di Northeast Ridge, memaksa para pendaki untuk menghadapi bahaya mematikan dari "zona kematian" dan kesulitan psikologis yang dihadapi untuk sekadar bertahan hidup. Green Boots telah menjadi pengingat yang kuat bagi para petualang yang telah menyelesaikan pendakian Everest.
Warisan Green Boots telah muncul dalam banyak buku, dokumenter, dan laporan, termasuk Into Thin Air karya Jon Krakauer dan berbagai dokumenter tentang pendakian gunung yang diinisiasi oleh bencana Everest tahun 1996. Sebagian besar kisah ini tidak hanya menyoroti pengorbanan manusia dalam pendakian di ketinggian seperti itu, tetapi juga dilema etika yang dihadapi para pendaki. Kisah Green Boots terus memikat dan mendidik penonton di seluruh dunia, menyoroti kekejaman gunung dan pengorbanan yang dilakukan oleh mereka yang berusaha mencapai puncaknya.
Pada akhirnya, Green Boots adalah pengingat akan kenyataan pahit Everest. Green Boots lebih dari sekadar titik navigasi karena melambangkan batas antara hidup dan mati, keberanian, kegigihan, dan nasib tragis para pendaki yang mencapai gunung tertinggi di dunia.
Kesimpulan
Kisah Green Boots masih menjadi misteri yang menghantui sebagian orang, terutama di kalangan pendaki. Meskipun semua orang tampaknya percaya bahwa Green Boots adalah Tsewang Paljor, seorang pendaki India yang meninggal dalam bencana Everest tahun 1996, identitas aslinya tidak pernah dikonfirmasi secara resmi, dan hilang dalam kenyataan pahit zona maut.
Di Northeast Ridge di sebuah gua batu kapur kecil, Green Boots menjadi lebih dari sekadar tubuh beku; ia menjadi penanda populer dan pengingat bagi setiap pendaki tentang potensi risiko, pertemuan, dan jalur berbahaya yang dihadapi setiap pendaki selama pendakian ke puncak.
Sepatu Bot Hijau telah mewakili aspek fisik dan psikologis pendakian gunung di dataran tinggi selama beberapa dekade. Sepatu ini bukan sekadar penanda navigasi, tetapi juga pengingat akan pengorbanan manusia di balik kejayaan pendakian Gunung Everest.
Perbincangan tentang identitas, dilema etika, dan kisah-kisah tidak mampu membantu legenda yang kompleks ini. Meskipun jenazahnya telah dipindahkan atau ditutupi pada tahun 2014, warisannya masih tertanam kuat dalam sejarah dan budaya Everest.
Pada akhirnya, Green Boots merupakan simbol kuat yang mendorong banyak pendaki untuk berpikir berbeda: Apakah ini peringatan tentang konsekuensi mematikan dari pendakian puncak Everest, ataukah ini merupakan ikon kegigihan dan tekad manusia untuk mencapai puncak Everest dengan cara apa pun?
Sosok misterius ini mewujudkan kedua makna tersebut, yang menjadi pengingat bahwa Everest adalah lokasi di mana ambisi bertemu dengan tantangan terbesar di alam. Setiap langkah maju dibebani oleh nyawa yang dikorbankan dan ambisi yang dikejar.